KeislamanOpiniWarga Menulis

Relevansi Haji dan Qurban Dalam Menyucikan Jiwa Manusia

Sebagai seorang manusia yang memiliki Rab, perlulah dalam ibadah memiliki jiwa yang suci. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam bahasa Arab, penyucian jiwa disebut sebagai tazkiyatun nafs, yang terdiri dari dua kata: at-tazkiyah dan an-nafsAt-tazkiyah bermakna at-tath-hiir, yaitu penyucian atau pembersihan. Namun at-tazkiyah tidak hanya memiliki makna penyucian. At-tazkiyah juga memiliki makna an-numuww, yaitu tumbuh. Maksudnya, tazkiyatun nafs itu juga berarti menumbuhkan jiwa seorang muslim agar bisa tumbuh sehat dengan memiliki sifat-sifat yang baik/terpuji.

Berdasarkan tinjauan bahasa tersebut dapat disimpulkan bahwa tazkiyatun nafs itu pada dasarnya melakukan dua hal. Pertama, menyucikan jiwa seorang muslim dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk/tercela, seperti kufur, nifaq, riya, hasad, ujub, sombong, pemarah, rakus, suka memperturutkan hawa nafsu, dan sebagainya. Kedua, menghiasi jiwa yang telah suci tersebut dengan sifat-sifat (akhlak) yang baik/terpuji, seperti ikhlas, jujur, zuhud, tawakkal, cinta dan kasih sayang, syukur, sabar, ridha, dan sebagainya.

Agar memiliki jiwa yang suci tersebut diperlukan sebuah sarana. Seorang muslim memerlukan berbagai macam cara atau sarana (wasail), yang disebut sebagai wasailut tazkiyah “sarana-sarana penyucian jiwa”. Sarana-sarana itu tidak lain adalah ibadah-ibadah seorang muslim: sholat, shaum, zakat dan infaq, haji, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan sebagainya. Semua bentuk ibadah tersebut merupakan cara membersihkan jiwa dan menumbuhkan akhlak yang terpuji.

Salah satu cara penyucian jiwa itu adalah haji. Sebagai rukun Islam ke lima, haji memiliki makna yang begitu dalam bagi seorang muslim. Sebagaimana firman Allah SWT bahwa “Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu (yakni bulan-bulan haji) akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata keji dan jorok), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS Al-Baqarah: 197).

Berdasarkan ayat tersebut terlihat jelas bahwa haji didesain untuk bisa melatih seorang muslim mengendalikan hawa nafsu dalam rangka untuk menyucikan jiwa dan membangun pribadi yang baik. Sebagaimana diketahui bahwa ibadah haji merupakan pencapaian tertinggi bagi seorang Muslim. Dengan beribadah haji maka sempurnalah Rukun Islam ke-5 seorang muslim.

Haji, selain merupakan kewajiban, adalah cara pendidikan juga. Haji menetapkan akhlak yang baik dan menghasilkan banyak manfaat sosial yang membawa kebaikan untuk individu dan umat manusia. Seorang yang melaksanakan haji tentu menghadapi banyak kesulitan, kesukaran dan situasi sulit selama periode persiapan, perjalanan dan pelaksanaan haji. Namun, hal tersebut yang mengajarkan seorang muslim untuk bersabar dan tunduk, lembut dan mengajarkan bagaimana mengontrol emosi dan tetap tenang. Selain itu, haji menghapus segala macam perbedaan dan memberikan kesatuan umat Islam. Dua juta orang dari ratusan negara yang berbeda dan bangsa yang berbeda, warna yang berbeda dan budaya yang berbeda berkumpul di tempat yang sama untuk tujuan yang sama. Para insan muslim ini mengenakan pakaian yang sama dan menghadap ke Kiblat yang sama. Mereka berbagi perasaan yang sama dan tindakan yang sama. Mereka menyebut takbir yang sama dan mengikuti langkah-langkah Nabi yang sama. Tidak peduli kaya atau miskin, mereka sama dalam kewajiban dan hak. Seluruhnya ini membuat muslim menyadari bahwa mereka sebenarnya hanyalah saudara satu sama lain atas nama Islam. Jadi, haji mengajarkan nilai kehidupan yang mulia bagi insan manusia. Tidak hanya itu, haji pun membentuk persaudaraan yang tulus di kalangan umat Islam dan jelas membuktikan bahwa Islam adalah agama persatuan dan solidaritas.

Haji pun mengajari manusia akan makna pengorbanan. Karena memang dalam melaksanakan haji tentu ada yang dikorbankan. Tiap Muslim yang pergi haji pasti akan secara sukarela mengorbankan apa saja agar bisa berada di jalan Allah, mulai dari harta, fisik hingga jiwa mereka. Contohnya, muslim yang pergi haji biasanya menabung sampai bertahun-tahun lamanya. Ibadah haji juga mengajarkan ketundukan serta ketaatan total pada Allah. Saat menunaikan haji, seorang akan pasrah mengikuti semua ritual yang diwajibkan, bahkan walau ritual tersebut melelahkan ataupun memberatkan. Sebagai contohnya adalah Wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah, rukun yang tidak boleh ditinggalkan ketika melaksanakan haji.

Jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di sebuah kawasan bebatuan yang seorang muslim kenal sebagai Padang Arafah. Di padang tandus inilah jutaan jamaah haji memulai ritualnya dengan cara berdiam diri melakukan perenungan dan berkontemplasi tentang substansi kehidupannya sebagai khalifah Tuhan di bumi. Perenungan yang memakan waktu seseorang muslimr lima hingga enam jam (Dzuhur sampai Maghrib).

Kata Wukuf berasal dari kata Waqafa yang bermakna ‘berhenti’. Sehingga, Wukuf adalah ritual haji yang mengajari umat Islam untuk sejenak meninggalkan aktivitas selama beberapa waktu, agar bisa melakukan kontemplasi diri. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim setelah menerima perintah Allah melalui mimpi-mimpinya untuk mengorbankan Ismail, putranya. Beliau menghentikan segala aktivitasnya, melakukan Wukuf (kontemplasi, berdzikir, dan berdoa) sepanjang siang hari hingga sore, menjelang matahari tenggelam. Beliau memohon ampunan, petunjuk dan bimbingan Allah SWT.

Allah Ta’ala berfirman“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56). Ayat di atas jelas menjelaskan tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah, hanya menyembah Allah semata. Ayat ini mengingatkan bahwa sejatinay manusia itu diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Kontemplasi yang dilakukan di padang Arafah tidak lain untuk mencerahkan umat Islam akan hal ini. Sehingga, pada saat itu Nabi Ibrahim memilih untuk mengikuti mimpinya yang merupakan perintah Allah untuk menyembelih putranya. Berat memang tugas tersebut. Namun, saat itu Nabi Ibrahim menunjukan dan mengimplementasikan isi dari ayat tersebut. Hingga pada akhirnya Ismail ditukar dengan domba oleh Allah SWT. Karena sejatinya saat itu Allah mengajarkan untuk senantiasa patuh. Manusia itu sebagai yang menyembah. Ibadah itu sebagai persembahannya dan Allah adalah yang disembah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *