Edutrip

Prasasti Ciaruteun

Irfanto Febriansya

Prasasti ciaruteun adalah prasasti yang dibuat pada masa pemerintahan raja Purnawarman yang memerintah di kerajaan Trauma (Tarumanegara). Prasasti Ciareteun terletak di desa Ciaruteun Hilir, kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor tepatnya pada koordinat 0°7’2,76” BB (dari Jakarta) dan 6°38’09”. Tempat ditemukannya prasasti ini merupakan bukit (bahasa Sunda: pasir) yang diapit oleh tiga sungai: sungai Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat ini masih dilaporkan sebagai Pasir Muara, yang termasuk dalam tanah swasta Ciampéa (sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang).

Pada awalnya orang tidak banyak yang tahu arti penting seonggok batu besar yang ada di Sungai Ciaruteun ini, sampai akhirnya pada tahun 1863 pimpinan Bataaviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen melaporkannya. Itulah prasasti Ciaruteun yang terletak di pinggir Sungai Ciaruteun. Pada saat penemuannya prasasti ini tidak menyebutkan anggak tahun, sehingga sangat sulit untuk menentukan kapan tahun pembuatannya. Pada tahun 1893 prasasti ini pernah terhanyut beberapa meter oleh derasnya aliran sungai dan bagian batu yang bertulis terbalik posisinya ke bawah. Pada tahun 1903 prasasti ini dikembalikan ketempat semula.

Prasasti Ciaruteun (Ciampea, Bogor) sebelumnya dikenal dengan sebutan prasasti Ciampea, ditemukan di Sungai Ciaruteun, dekat muaranya dengan Cisadane. Yang menarik perhatian dari prasasti ini adalah lukisan laba-laba dan tapak kaki yang dipahatkan disebelah atas hurufnya. Prasasti ini terdiri dari empat baris, ditulis dalam bentuk puisi India dengan irama anustubh. Berdasarkan isi prasasti ini kita dapat mengetahui bawah prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan raja Purnawarman yang memerintah di kerajaan Trauma (Tarumanegara). Dan apabila kita memerhatikan irama, sepertinya memiliki kesamaan dengan prasasti yang ditemukan di Kutai, yang dikeluarkan oleh raja Mulawarman yaitu sama-sama menggunakan irama anustubh. Hal ini mungkin adanya kesamaan kebudayaan yang berkembang antara di Taruma dan Kutai. Selanjutnya kesamaan nama belakang mereka yaitu Warman semakin memperkuat dugaan tersebut.

Prasasti Ciaruteun dibuat dari batu alam. Prasasti Ciaruteun bergoreskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta dengan metrum Anustubh yang teridiri dari tiga baris dan pada bagian bawah tulisan terdapat pahatan gambar umbi dan sulur-suluran (pilin), sepasang telapak kaki dan laba-laba.

Teks: vikkrantasyavanipat eh srimatah purnnavarmmanah tarumanagarendrasya visnoriva padadvayam

Terjemahan: “inilah (tanda) sepasang telapak kaki yang seperti kaki dewa Visnu (pemelihara) ialah telapak yang mulia sang Purnnawamman, raja di negri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.

Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tersebut (tempat ditemukannya prasasti tersebut). Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *