Opini

Eksistensi Organisasi Ekstra Kampus

Oleh: Fikri Ramadhan (Angkatan Sholahuddin Al Ayyubi)

Kampus merupakan tempat pertaruhan ideologi-ideologi sehingga adanya gerakan politik dari mahasiswa. Kampus merupakan ruang pabrik untuk segala pemikiran-pemikiran dan ilmu yang semakin berkembang. Sehingga pertaruhan ideologi-ideologi itu sebagai upaya-upaya memperebutkan pengaruh politik terhadap membentuk suatu kelompok-kelompok tertentu sesuai dengan keinginan mereka. Pada dasarnya kampus ini memliki 2 lingkup suatu organisasi, yaitu organisasi ekstra kampus dan organisasi intra kampus.

Mahasiswa yang memiliki eksistensi di negeri ini bahkan memiliki peran strategis yang berperan aktif dalam kemerdekaan Indonesia. Sebagai kasta sosial intelektual, mahasiswa memiliki peran penting di dalam masyrakat. Aktivitas mahasiswa yang menambah ruang geraknya menjadi lebih luas yang kemudian sebagai penggerak utama dalam perubahan sosial dunia perpolitikan di negeri ini. Mereka ini yang merupakan sivitas akademika disebut para ‘aktivis’. Politik kampus merupakan representasi dari gerakan mahasiswa. Mahasiswa yang merupakan salah satu aspek penting dalam bangsa ini yang tercermin sebagai Agent of Change, Moral Force, Social Control, dan Iron Shock ,maka dari itu perlu adanya pembinaan dalam lingkup keorganisasian pada diri sebuah mahasiswa.

Terdapat beberapa organisasi ekstra kampus yang masih ada di dalam masyarakat, yakni HMI, PII, GMNI, PMKRI dan lain lainnya.  Organisasi-organisasi seperti GMNI, HMI, PMKRI, PMII, KAMMI, GMKI, FMN, LMND, IMM, sering disebut dengan organisasi mahasiswa ekstra kampus (OMEK). Organisasi-organisasi tersebut tak hanya melakukan demonstrasi saja, tetapi juga memiliki aktivitas lain, seperti diskusi, dan kegiatan sosial. Namun minat mahasiswa dalam mengikuti organisasi ekstra kampus mengalami pemerosotan. Banyak hal yang menyebabkan itu terjadi, misalnya kesibukan mahasiswa untuk belajar mengenai konsentrasi ilmu yang dia tekuni, mahasiswanya bukan tipikal seorang organisatoris, dan juga karna mahasiswanya dituntut untuk bekerja demi menafkahi dirinya (kerja sampingan).

 

Organisasi ekstra kampus mempunyai sejarah dan peran penting terhadap bangsa ini. Namun pada zaman sekarang ini kultur mahasiswa yang senang berorganisasi ekstra kampus mengalami pemudaran. Mahasiswa yang kurang menyadari pentingnya organisasi dan softskill untuk diri mereka, serta masih banyak juga yang bepikir bahwa organisasi dapat memperlama masa kuliah mereka dan mengganggu kuliah mereka, sehingga belakangan ini minat dan kesadaran akan pentingnya berorganisasi khususnya dikalangan mahasiswa berkurang

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan kuranya minat mahasiswa berorganisasi diantaranya, yaitu :

Pertama, faktor kualitas aktifis dalam sebuah organisasi. dimana Aktifis sekarang cenderung tidak memiliki intelektualitas yang bagus. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kajian antar sesama aktifis. Mereka hanya cenderung membicarakan persoalan-persoalan yang tidak penting. Selain itu, aktifis organisasi tidak mau untuk belajar mandiri serta sering mengulur-ulur waktu untuk melakukan kajian keilmuan.

Kedua, faktor organisasi mencatat presentase sebesar 19,5%. Organisasi saat ini tidak memiliki SDM yang baik, sehingga kepengurusan di organisasi tidak berfungsi. Akibatnya, organisasi mengalami stagnan. Tidak ada perkembangan dalam menjalankan roda organisasinya. Buruknya manajemen dalam organisasi juga menjadi pertimbangan mahasiswa untuk tidak mau ikut bergabung. Selain itu banyak program-program organisasi yang tidak jelas arah tujuannya. Sehingga banyak mahasiswa yang belum mengerti pentingnya mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi. Hal ini bisa diakibatkan oleh minimnya komunikasi dan penyampaian informasi yang dilakukan oleh organisasi terhadap mahasiswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *