Jakarta (ANTARA) – Warga Asrama Mahasiswa Islam Sunan Giri Rawamangun Jakarta Timur menghadirkan Ustadz Mumuy juara satu Akademi Aksi Indonesia (AKSI), salah satu ajang pencarian bakat ustadz dan ustadzah yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.

“Ini suatu acara yang luar biasa, mudah-mudahan ini istiqomah, ini jadi penyemangat,” kata Ustad Mumuy yang ditemui usai menjadi penceramah dalam acara santunan anak yatim dan duafa di Asrama Mahasiswa Islam Sunan Giri, Minggu (26/5) malam.

Ustadz Mumuy ketika mengikuti ajang AKSI masih berstatus mahasiswa semester dua di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pringsewu Lampung.

Mumuy pada kesempatan itu juga mengapresiasi dan memberikan saran kepada para mahasiswa yang ada di Asrama Sunan Giri.

“Mahasiswa harus lebih aktif, karena kajian di ruangan dan di luar ruangan itu beda, dan mengamalkannya juga berbeda, terus berkarya dan terus buktikan dan amalkan ilmu-ilmu yang di sampaikan oleh para guru, ayo menjadi hamba Allah yang berhidmat untuk umat dan menjadi orang-orang yang bermanfaat,” ujar Mumuy.

Selain menghadirkan ustadz Mumuy, panitia kegiatan juga menghadirkan 250 anak yatim dan duafa untuk diberikan santunan.

Acara ini juga mendatangkan para alumni Mahasiswa Islam Sunan Giri.

Farid Wadjidi yang merupakan alumni asrama yang sekarang menjabat sebagai ketua Yayasan Asrama Pelajar Islam (YAPI) menyampaikan perbedaan warga asrama di era dia dulu dengan sekarang.

“Setiap generasi sesuai dengan apa yang ingin disalurkan ke masyarakat, kalau zaman dulu saya lebih berbaur dengan masyarakat dengan melibatkan masyarakat dengan kegiatan asrama seperti pengajian, pemotongan hewan kurban saat Idul Adha, bimbingan belajar dan dakwah keislaman,” kata Farid, alumnus  yang sekarang berprofesi bagai dosen tekno elektrik di Universitas Negeri Jakarta.

Warga asrama yang berlatar belakang berbeda yang membuat lulusan atau alumni asrama juga yang beragam mulai dari politikus, pengajar, pengusaha, dokter dan lain-lain.

“Asrama ini merupakan asrama yang diwarisi oleh para pejuang, dengan semangat pejuang itu kemudian dikobarkan untuk membakar semangat teman-teman ketika di asrama, yang mempengaruhi cara berpikir dan cara bertindak warga asrama yang membedakan dengan asrama-asrama lain,” ujar Syamsi Direktur Asrama Sunan Giri.

Syamsi yang berprofesi sebagai dosen bahasa Arab itu juga mengatakan, warga asrama harus mulai memikirkan terobosan – terobosan sesuai dengan perkembangan zaman, karena tuntutan zaman sekarang dan dulu yang sudah berbeda jadi sistem pengaderan yang seperti dulu tapi tuntutannya berbeda, dan ketika warga keluar dari asrama warga belum siap dengan tuntutan itu.