Oleh: Ronaldo Ahmad Sidik (Angkatan Umar bin Khattab)

Selama ini kita hanya mengenal wayang kulit, wayang golek, atau wayang beber sebagai seni pertunjukan yang diakui oleh UNESCO. Selain tiga wayang yang telah disebutkan, Indonesia masih memiliki varian wayang yang terbilang unik. Jika wayang kebanyakan terbuat dari kulit atau kayu, maka wayang yang satu ini justru terbuat dari rumput. Rumput yang merupakan tumbuhan tidak berguna ini nyatanya bisa menghasilkan wayang yang sangat hebat. Dengan inovasi dan juga kreativitas yang tidak ada batasannya, wayang suket yang unik ini akhirnya lahir. Kini wayang suket menjadi satu dari sekian wayang yang pertunjukannya selalu ditunggu banyak orang.

Asal-Usul Wayang Suket

Tidak ada yang tahu dengan jelas kapan wayang suket ini dibuat oleh banyak orang. Namun beberapa orang seperti Thalib Prasojo dan Slamet Gundono dikenal sangat ahli dalam membuat wayang suket ini. Mereka mampu mengubah rumput yang tidak berguna berubah menjadi sesuatu yang tidak hanya unik namun juga memiliki nilai filosofi yang dalam.

Dahulu kala, wayang suket banyak dibuat untuk mainan anak-anak. Biasanya anak-anak atau orang tua akan membuatnya ketika berada di ladang. Rumput-rumput yang panjang serta kuat dianyam sedemikian rupa sehingga menghasilkan bentuk wayang yang unik. Saat wayang sudah jadi, anak-anak akan memainkannya dengan suka cita hingga wayang suket akhirnya rusak

Filosofi Wayang Suket yang Besar

Seperti yang telah penulis katakan pada poin sebelumnya, wayang suket memiliki filosofi yang sangat besar dan dalam. Filosofi yang dimaksukkan adalah tempat hidup dari rumput atau suket itu sendiri. Tumbuhan yang sering dianggap hama itu kerap kita injak atau bahkan basmi. Namun, setelah beberapa saat mereka kembali tumbuh dan berkembang dengan baik.

Rumput bisa diibaratkan kehidupan manusia. Meski manusia awalnya menderita dan letaknya di bawah, jika berusaha mereka bisa bangkit dan berkarya. Meski rumput tidak berguna, jika sudah dibuat jadi wayang tetap akan menjadi karya seni yang hebat. Terlebih lagi kalau dalangnya mampu menyajikan cerita yang hebat kepada pemirsa.

Pertunjukan Wayang Suket

Meski terbuat dari bahan suket atau rumput, wayang tetaplah wayang. Benda seni ini tetaplah alat yang digunakan untuk menyampaikan makna-mana kehidupan. Berangkat dari sini, Slamet Gundono yang merupakan dalang nyentrik kerap menyajikan pertunjukan menggunakan wayang suket yang telah diolah dengan sangat menakjubkan.

Dalam pertunjukan wayangnya, Slamet Gundono mampu menyajikan pertunjukan yang sangat memukau. Dia mampu memadukan berbagai elemen seni dengan sempurna. Nyanyian-nyanyian khas Jawa, tarian, hingga jalan cerita yang sangat menarik membuat pertunjukan ini tidak bisa dilewatkan begitu saja. Di setiap pertunjukannya Slamet Gundono selalu membuat banyak orang berdecak kagum.

 

Karya Seni yang Harus Terus Dipertahankan

Wayang suket adalah salah satu hasil seni dan juga pertunjukan yang wajib dipertahankan. Hal ini perlu diperhatikan karena wayang suket berbeda dengan jenis wayang yang lain. Meski pembuatannya lebih unik dan sederhana, wayang suket jarang sekali dilirik oleh banyak orang. Pertama karena mudah rusak dan kedua karena tidak memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Saat ini museum wayang di Indonesia sudah mulai menyimpan wayang suket. Salah satu Museum yang menyimpan wayang suket ini adalah museum wayang Kota Tua. Karya seni yang sangat unik ini disimpan agar tidak lenyap seiring menurunnya minat masyarakat Indonesia dengan wayang. Jika generasi muda tidak dikenalkan dengan wayang suket, bukan tidak mungkin masa depan karya seni ini akan punah.

Categories: EdutripOpini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Edutrip

Tafakur Alam Melalu Kegiatan Edutrip

Sabtu (28/10), Biro Komunikasi dan Informatika mengadakan kegiatan Edutrip yang ditujukan untuk seluruh warga asrama. Edutrip ini dilaksanakan di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menambah cakrawala pengetahuan mengenai hewan-hewan yang Read more…

Opini

Napak Tilas Perjuangan Ki Hadjar Dewantara

Oleh : Reza Ardiansyah Saputra Editor : M Nurilman Baehaqi Hardiknas merupakan akronim dari Hari Pendidikan Nasional (Indonesia Nasional Education Day), yang diperingati setiap tanggal 2 Mei. Mulai ditetapkan pada tahun 1959,  namun secara efektif Read more…

Opini

MAY DAY: Memanusiakan Kaum Pekerja

Oleh: Kafi Maulana Editor: M Nurilman Baehaqi “Libur telah tiba… libur telah tiba… hore… hore… hore”. Sepenggal lirik lagu anak – anak tadi pastinya mewakili sebagian besar perasaan anak – anak sekolah, pekerja kantoran, buruh Read more…