Oleh : Abdul Rahman (Angkatan Ibnu Majah)

Jakarta-Pada hari minggu ( 31/10/2017),  Asrama Sunan Giri melakukan edutrip ke Kota Tua. Salah satunya berkunjung ke Museum Wayang yang memiliki koleksi Topeng Dalang Madura. Menurut kisah para seniman Topeng Dalang Madura, baik dari Bangkalan, Sampang dan Pamekasan, kesenian Topeng Dalang Madura ini berasal dari Keraton Jambringan (Jambringen) yang berada di kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan yang diperintah oleh Raden Ario Menak Sanoyo atau juga dijuluki Pangeran Prabu Menak Sanoyo.

Ada versi yang menceritakan kalau Raden Ario Menak Sanoyo ini anak dari Ario Damar yang menjadi bupati Palembang, sementara  Ario Damar sendiri disebut-sebut putra dari Prabu Brawijaya V yang merupakan raja terakhir Majapahit. Disuatu malam Raden Ario Menak Sanoyo bermimpi didatangi Kakeknya yang berkata begini : “Nak, pergilah ke timur dan bila kau mendarat di sebuat pulau bernama Madura, carilah desa bernama Proppo. Desa itu yang akan jadi tempat kekuasaanmu.” Dia terbangun dan berhari-hari memikirkan mimpi tersebut.

Akhirnya dia mengambil keputusan untuk menuruti wangsit yang didapatnya dari mimpi tersebut. Setelah memohon restu kepada Raden Ario Damar, Raden Ario Menak Sanoyo keluar dari keraton sendirian. Dia menuju pantai dan naik perahu yang telah disiapkan sebelumnya. Ada versi lain yang mengatakan kalau dia naik penyu putih. Sesampainya di Pulau Madura, Raden Ario Menak Sanoyo melanjutkan perjalanannya ke desa yang disebut-sebut dalam mimpinya, yakni desa Proppo.

Setelah dia menetap di Proppo, masyarakat sekitar ternyata sangat senang dan hormat taat kepada Raden Ario Menak Sanoyo, dan oleh karenanya dia diangkat jadi kepala desa yang akhirnya menjadi raja di kerajaan Jambringen. Di Kerajaan Jambringen itulah, dia mengubah kesenian wayang kulit (bajang kole’ dalam bahasa Madura) menjadi Topeng Dalang Madura. Karena menurutnya perlu banyak orang yang terlibat dalam pertunjukan ini, daripada sekedar wayang kulit yang hanya dimainkan seorang dalang.

Mulanya, topeng dalang ini hanya dimainkan oleh kerabat keraton karena tujuannya untuk menghormati para tamu agung yang datang ke keraton Jambringen. Namun lambat laun, kesenian ini keluar dari pintu keraton dan menyebar hingga segala penjuru Pulau Madura. Lakon cerita dalam topeng dalang Madura ini intinya sama dengan wayang kulit, yakni lakon Mahabharata dan Ramayana. Di jaman dulu, hanya laki-laki yang boleh berpentas karena perempuan tidak diperkenankan menjadi lakon dalam pertunjukan ini. Namun seiring dengan jaman dan kebutuhan masyarakat, maka akhirnya perempuan pun tampil dalam kesenian ini.

Topeng Dalang Madura mempunyai kesamaan dengan Topeng Malangan, karena pada dulunya kedua wilayah ini sama-sama menjadi bagian dari Kerajaan Singasari hingga Majapahit.
Sayang kesenian ini sudah mulai pudar dimakan jaman. Saya ingin sekali melihat langsung kesenian tersebut, tapi semoga saja tidak lekas punah meski tergerus oleh arus teknologi informasi yang meng-alay saat ini.

Categories: Edutrip

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Edutrip

Tafakur Alam Melalu Kegiatan Edutrip

Sabtu (28/10), Biro Komunikasi dan Informatika mengadakan kegiatan Edutrip yang ditujukan untuk seluruh warga asrama. Edutrip ini dilaksanakan di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menambah cakrawala pengetahuan mengenai hewan-hewan yang Read more…

Edutrip

Mengenal Wayang Kulit

Oleh: Agus Saeful Iman (Angkatan Ibnu Majah) Wayang kulit merupakan sebuah boneka tiruan dari seorang tokoh atau karakter yang ada dalam sebuah cerita rakyat yang terbuat dari lembaran kulit kerbau yang telah dikeringkan. Tokoh-tokoh yang Read more…

Edutrip

Oeang Republik Indonesia dan Oeang Republik Indonesia Daerah

Oleh : Restu Saputra (Angkatan Al-Khawarizmi) Oeang Republik Indonesia dan Oeang Republik Indonesia Daerah Oleh : Restu Saputra   Pada 30 September 2017, Asrama Sunan Giri mengadakan acara Edutrip, yaitu mengunjungi beberapa museum yang ada Read more…