Oleh: Arfiandi Hidayatul Mudhoris (Angkatan Utsman Bin Affan)

 

Plagiarisme berasal dari kata plagiat yang berarti pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dan sebagainya) sendiri, misal menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri (KBBI, 2014).

Ada juga  beberapa pendapat lain mengenai definisi plagiarisme seperti:

  1. Neville (dikutip dalam Putri, 2013) mengemukakan bahwa Plagiarisme sebagai tindakan mengambil ide atau tulisan orang lain tanpa menyebutkan rujukan dan diklaim sebagai miliknya sendiri.
  2. Plagiarisme adalah bentuk penyalahgunaan hak kekayaan intelektual milik orang lain, yang mana karya tersebut dipresentasikan dan diakui secara tidak sah sebagai hasil karya pribadi (Sulianta, 2007).

 

 

Plagiarisme kerap dilakukan oleh mahasiswa. Beberapa faktor yang menyebabkan seorang mahasiswa melakukan tindakan plagiat, yaitu :

Malas

Mahasiswa menjadi jenuh dan malas karena selalu dihadapkan dengan tugas yang menumpuk dan deadline tugas yang hampir bersamaan. Hal ini tentu saja membuat mahasiswa kurang optimal mengerjakan tugasnya. Tidak jarang  mahasiswa mengerjakan tugas dengan jalan pintas, yaitu melakukan copy paste atau plagiarisme dari hasil pekerjaan teman atau hasil browsing di internet.

Tidak Percaya Diri

Tidak percaya diri juga menjadi suatu hal yang mendasari seseorang untuk melakukan copy paste. Ketidaksiapan seseorang dalam membuat suatu tugas yang menyebabkan hal ini dapat terjadi. Maka dari itu, mahasiswa harus menanamkan rasa percaya diri di dalam diri mereka.

 

Penyalahgunaan Teknologi

Kemajuan teknologi telah memperkenalkan internet kepada mahasiswa. Dengan menggunakan internet, mahasiswa mendapatkan kemudahan untuk memperoleh referensi. Tanpa berpikir panjang, mahasiswa melakukan copy  paste tanpa mencantumkan sumber copy-an dari referensi tersebut. Bahkan tidak jarang mahasiswa mengumpulkan tugas dari hasil copy paste tanpa adanya perubahan terlebih dahulu.

 

Contoh kasus plagiarisme yang terjadi di dunia akademik saat ini adalah:

  • Plagiarisme yang terjadi di UNJ (Universitas Negeri Jakarta)yang di awali dengan di temukannya bukti plagiarisme oleh tim EKA (tim Evaluasi Kinerja Akademik) pada lima disertasi, salah satunya pada disertasi Nur Alam (mantan Gubernur Sultra). Disertasi itu terindikasi menyadur dari laman-laman penyedia arsip disertasi di internet.

 

  • Dosen Institut Pertanian Bogor, Heri Ahmad Sukria, disomasi Jasmal A. Syamsu dari Universitas Hasanuddin, Sulawesi Selatan. Somasi dilayangkan terkait dengan dugaan plagiarisme buku berjudul Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan di Indonesia. Buku tersebut diterbitkan IPB Press dengan penulis Heri Ahmad dan Rantan Krisnan. Menurut sang Profesor, terdapat tulisan dan data yang diambil dari artikelnya.

 

  • Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati menyelesaikan tesis doktornya dengan membajak tesis Prof Dr H.M.A. Tihami, MA, Rektor Institut Agama Islam Negeri (Sekarang UIN) Sultan Maulana Hasanuddin, Banten, dan buku Mohamad Hudaeri M.A., dosen dan Ketua Lembaga Penelitian IAIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten. Sayangnya, ini hanya laporan surat pembaca di
    harian Kompas, jadi tidak terdengar kelanjutan kasusnya.

Sebetulnya dalam penanganan kasus plagiarisme, pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang (UU). UU mengenai sanksi terhadap lulusan yang melakukan plagiarisme dapat dilihat sebagai berikut:

 

Setiap perguruan tinggi menetapkan syarat kelulusan untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi (Pasal 25 ayat [1] UU Sisdiknas). Jika karya ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi terbukti hasil jiplakan, maka gelarnya akan dicabut (Pasal 25 ayat [2] UU Sisdiknas).

 

Lebih jauh lagi, tidak hanya dicabut gelarnya, lulusan yang terbukti menjiplak karya ilmiah orang lain juga diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp200 juta (Pasal 70 UU Sisdiknas).

 

Bahkan mengenai penjiplakan karya ilmiah ini, Menteri Pendidikan sudah menerbitkan Permendiknas No. 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi(“Permendiknas 17/2010”).

 

Pengertian plagiat menurut Pasal 1 angka 1 Permendiknas 17/2010 adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai.

 

Macam-macam bentuk plagiat dalam penulisan karya ilmiah meliputi tetapi tidak terbatas pada (Pasal 2 ayat [1] Permendiknas 17/2010):

  1. mengacu dan/atau mengutip istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai;
  2. mengacu dan/atau mengutip secara acak istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai;
  3. menggunakan sumber gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai;
  4. merumuskan dengan kata-kata dan/atau kalimat sendiri dari sumber kata-kata dan/atau kalimat, gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai;
  5. menyerahkan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dan/atau telah dipublikasikan oleh pihak lain sebagai karya ilmiahnya tanpa menyatakan sumber secara memadai

 

Penanggulangan plagiat oleh mahasiswa dalam penulisan karya ilmiah diatur selanjutnya dalam Pasal 10 Permendiknas 17/2010, yang berbunyi:

(1)   Dalam hal diduga telah terjadi plagiat oleh mahasiswa, ketua jurusan/departemen/bagian membuat persandingan antara karya ilmiah mahasiswa dengan karya dan/atau karya ilmiah yang diduga merupakan sumber yang tidak dinyatakan oleh mahasiswa.

(2)   Ketua jurusan/departemen/bagian meminta seorang dosen sejawat sebidang untuk memberikan kesaksian secara tertulis tentang kebenaran plagiat yang diduga telah dilakukan mahasiswa.

(3)   Mahasiswa yang diduga melakukan plagiat diberi kesempatan melakukan pembelaan di hadapan ketua jurusan/departemen/bagian.

(4)   Apabila berdasarkan persandingan dan kesaksian telah terbukti terjadi plagiat, maka ketua jurusan/departemen/bagian menjatuhkan sanksi kepada mahasiswa sebagai plagiator.

(5)   Apabila salah satu dari persandingan atau kesaksian, ternyata tidak dapat membuktikan terjadinya plagiat, maka sanksi tidak dapat dijatuhkan kepada mahasiswa yang diduga melakukan plagiat.

 

Apabila mahasiswa terbukti melakukan plagiat sedangkan ia telah lulus suatu program studi, maka sanksi yang diterima adalah pembatalan ijazah (Pasal 12 ayat [1] huruf g Permendiknas 17/2010). Akan tetapi, bila tidak terbukti melakukan plagiat sebagaimana dituduhkan, maka  pemimpin perguruan tinggi melakukan pemulihan nama baik yang bersangkutan (Pasal 14 Permendiknas 17/2010).

 

Terdapat beberapa upaya untuk mengurangi tindakan plagiat, antara lain :

  1. Menumbuhkan integritas pada diri sendiri sehingga senantiasa dapat menjaga dan membantu diri dari perbuatan copy paste tanpa menyebutkan sumber asal.
  2. Menggunakan software anti plagiarisme. Dengan menggunakan software ini, maka tindakan atau praktik-praktik plagiarisme akan terdeteksi.
  3. Menanamkan moral anti plagiat dalam diri sendiri. Seseorang harus percaya diri dalam mengerjakan tugasnya. Yang dicari bukanlah nilai yang baik dalam mengerjakan tugas, melainkan ilmu yang bermanfaat.
  4. Memberi penghargaan terhadap karya orang yang tidak melakukan tindakan plagiat. Hal ini sangat berguna untuk menumbuhkan rasa percaya diri dalam menciptakan hasil karya sendiri.
  5. Tindakan yang tegas bagi para plagiator.

Kesimpulan:

Plagiarisme adalah tindakan penjiplakan atau pencurian suatu karya seseorang tanpa mencamtumkan sumber atau referensi yang telah di gunakan secara sengaja maupun tidak sengaja. plagiat merupakan tindakan yang tidak terpuji ,melanggar etika ,melanggar hukum. sebenarnya hal ini memberikan keuntungan sesaat ,hal ini terjadi karena banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa tindakan menjiplak karya orang lain tanpa meminta izin akan merugikan dirinya dan korbannya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://faisetiawa.blogspot.co.id/2015/01/faktor-penebab-orang-melakukan-plagiat.html

http://news.metrotvnews.com/peristiwa/4bazAM2k-kasus-plagiarisme-rektor-unj-didepak

https://tessy.id/news/single?slug=8-kasus-plagiat-yang-menghebohkan-indonesia

http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl2503/sanksi-hukum-bagi-lulusan-yang-skripsinya-hasil-plagiat

Tindakan Plagiat (PLAGIARISME)

Asrama Sunan Giri in collaboration with Hestia. 2017. All Right Reserved